14 Emiten Rights Issue, 2 Emiten Konglomerat Ini Terbesar

pembukaan bursa saham

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, per Jumat, (14/4/2023), sudah ada 14 perusahaan tercatat yang telah menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

“Total nilai Rp14,2 triliun,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan.

Meski telah meraup Rp14,2 triliun di awal Kuartal II-2023 ini, Nyoman mengatakan, pihaknya masih memegang 24 perusahaan tercatat anyg mengajukan diri untuk melaksanakan right issue.

Nyoman merinci, perusahaan finansial dan sektor konsumer non primer atau consumer cyclicals menjadi sektor paling banyak yang masuk dalam pipeline rights issue. Masing-masing berjumlah 7 perusahaan dengan porsi 31,82%.

Sementara itu, sektor energi dan sektor barang primer menyusul di posisi berikutnya dengan perolehan masing-masing 4 perusahaan tercatat. Porsi dari keduanya sebanyak 18,18%.

Sisanya, ada satu perusahaan di sektor transportasi dan logistik dan satu perusahaan basic material yang mengantre untuk melakukan aksi korporasi Right Issue tersebut.

Bila melihat dua bulan ke belakang, beberapa emiten memang telah selesai melakukan rights issue mereka. Sebagian besar adalah emiten perbankan, dan digunakan untuk penambahan modal ini agar sesuai dengan peraturan batas modal yang berlaku.

Emiten bank Grup Lippo PT Bank National Nobu Tbk. (NOBU) misalnya, mengumumkan pelaksanaan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD III) atau right issue. Mengutip keterbukaan informasi, Bank Nobu berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,6 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham.

Sementara dalam laporan keuangan tahunan 2022 NOBU, manajemen menjelaskan bahwa aksi korporasi ini dilakukan untuk memperkuat struktur permodalan selaras dengan POJK No. 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum. Selain itu juga akan digunakan sebagai modal kerja dalam bentuk penyaluran kredit kepada nasabah dan pengembangan layanan digital bank.

Adapun rencana aksi korporasi ini diumumkan tidak lama setelah Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengkonfirmasi isu merger NOBU dan emiten bank milik Hary Tanoesoedibjo, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). Ia mengungkapkan bahwa proses konsolidasi sudah bergulir, bahkan sudah ada tim yang mengurusi penggabungan atau merger tersebut.

Masih di emiten perbankan, PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) juga menambah modalnya lewat Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue. Bank JTrus akan menerbitkan 10 miliar lembar seri C dalam aksi korporasi ini.

Bank JTrus menetapkan harga right issue sebesar Rp 100 per lembar saham. Dengan demikian, perusahaan eks Bank Mutiara ini menaksir target dana sebesar Rp 1 triliun dari aksi ini.

Perseroan berencana menggunakan dana hasil PMHMETD setelah dikurangi dengan biaya emisi untuk memperkuat struktur permodalan guna mengukuhkan pemenuhan ketentuan tentang modal inti minimum bank.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*